Pojok Kaos Hanif

Headlines dari Free Download, Superhero And Science Fiction

Headline Pojok Kaos Hanif. Digital Printing T-Shirt

Pojok Kaos Hanif.  Digital Printing T-Shirt

EKOSISTEM RUSAK, ULAH SIAPA?



Anda tentunya sudah mendengar wabah ulat bulu yang menyerang Kabupaten Probolinggo baru-baru ini.  Informasi terakhir kabarnya wabah ulat bulu ini sudah menyerang Kabupaten Kendal di Jawa Tengah dan Bekasi, Jawa Barat.  Ulat bulu itu menurut saya sebetulnya bukan mahluk yang membahayakan tetapi sangat menggelikan ... itu juga kalau cuma 1 atau 2... tapi kalau ribuan seperti yang sekarang terjadi ... bukan lagi menggelikan tetapi menurut saya... horor....


Saya tidak ingin ikut-ikutan membahas masalah ulat bulu itu... memikirkan ribuan ulat bulu merayap-rayap aja bikin saya merinding... saya hanya ingin berbicara sedikit mengenai peran manusia (kita) pada hilangnya keseimbangan ekosistem yang menurut para ahli menjadi salah satu sebab terjadinya wabah ulat bulu.  

Kabarnya ulat bulu menjadi wabah sekarang ini salah satunya akibat hilangnya musuh alami ulat bulu yaitu burung, parasitoid dan beberapa predator lain.  Sekarang yang jadi pertanyaan, mengapa musuh alami ulat bulu bisa sampai hilang... kalau kita runut lagi ke belakang... pada akhirnya kitalah yang menjadi faktor terbesar hilangnya musuh alami ulat bulu ini.

Saya masih ingat.... pada saat saya kecil dulu saya bisa dengan mudahnya melihat dan menemukan burung-burung hinggap di pohon-pohon dekat rumah saya atau di pohon-pohon lain... kalau kebetulan saya menengok ke langit.. tidak sedikit saya melihat burung-burung terbang dengan bebasnya baik dalam kelompok maupun sendiri-sendiri.

Seiring dengan perjalanan waktu... atas nama pembangunan... pohon-pohon itu banyak yang ditebang... diganti dengan tembok-tembok kaku yang berdiri dengan angkuh.  Tetapi karena  keserakahan manusia (kita)... banyak yang lupa untuk menanam kembali pohon... padahal pohon-pohon itu menjadi rumah bagi beberapa binatang... akibatnya sedikit demi sedikit burung dan binatang lain terusir dan tidak memiliki rumah lagi... akhir-akhir ini saya lebih banyak melihat burung-burung dalam sangkar diperjualbelikan di pinggir jalan daripada bebas beterbangan di angkasa... sungguh kasihan sekali... sudah tidak punya rumah... harus terkurung pula demi kesenangan manusia (kita...)... coba bayangkan kalau itu terjadi pada kita... sudah terusir karena rumah digusur... kemudian harus masuk penjara pula... Jangan katakan bahwa burung itu cuma binatang yang tidak punya perasaan... kita toh tidak pernah bertanya pada mereka... tetapi mereka juga mahluk Tuhan yang memiliki hak sama dengan kita dalam menikmati hidup di alam ini.

Sedikit-demi sedikit pula... tanah yang tadinya hijau tertutup rumput berubah menjadi tertutup semen untuk kepentingan lahan parkir kendaraan kita atau keperluan lain... tidak sedikit yang menutup tanah dengan semen (biasanya di area pemukiman...) hanya karena kita tidak mau kotor karena tanah dengan alasan kepraktisan agar tidak perlu merawat tananam atau alasan lain yang bisa dicari-cari... tetapi kita seringkali lupa dengan akibat perbuatan kita... tanah yang tertutup semen mengakibatkan air tidak meresap yang akhirnya kita akan kekurangan air jika musim kemarau tiba dan banjir di musim hujan.

Pohon-pohon yang hilang mengakibatkan udara menjadi panas dan terik matahari kian menyengat sehingga iklim berubah yang mengakibatkan siklus kehidupan serangga (termasuk ulat) juga berubah.  Hilangnya pohon juga menyebabkan berkurangnya populasi burung yang merupakan pemangsa serangga-serangga kecil... seperti ulat.  Populasi burung berkurang juga akibat ulah kita yang seenaknya memburu mereka hanya demi kesenangan semata.

Menurut saya, semua hal itu saling berhubungan.  Tidak ada yang berdiri sendiri di alam ini... tetapi kita seringkali bersikap masa bodoh hanya demi kepentingan uang dan kekayaan... kita berbuat seenaknya tanpa memikirkan akibatnya terhadap alam ini.  Pada akhirnya manusia juga yang menerima akibatnya.  Keserakahan dan kebodohan kita membuat hidup kita di alam ini menjadi tidak aman dan nyaman, sering tertimpa musibah, kekeringan, banjir, bahkan kita pun sudah dibuat pusing dengan wabah ulat bulu.  Jangan katakan bahwa kejadian itu terjadi di tempat lain... karena kejadian dan musibah apapun tidak memandang tempat... bisa terjadi di mana saja... selama kita tidak mempedulikan alam tempat kita hidup.

Wabah ulat bulu akibat ekosistem yang rusak sehingga predator alaminya hilang... menurut para ahli tidak akan berakhir di situ... terlebih jika kita tidak sabar dengan kondisi ini dan mengambil jalan pintas untuk menyelesaikannya.  Di tayangan televisi... demi keamanan ada beberapa warga masyarakat yang sengaja menebang pohon agar tidak terjadi wabah ulat bulu... bayangkan jika semua orang berpikiran sama... menebang pohon agar tidak terkena wabah... jika demikian banyak pohon yang akan habis ditebang... jika pohon banyak yang hilang... rumah beberapa binatang yang mungkin saja menjadi predator alami ulat bulu juga akan musnah... akibatnya bisa timbul bahaya yang lain lagi dan mungkin saja lebih besar.  Pada akhirnya semua akan berputar kembali menjadi seperti lingkaran setan.

Jadi alangkah bijaksananya jika kita mulai dari saat ini menjaga alam tempat kita tinggal agar ekosisten tetap terjaga... mulai saja dari rumah kita.  Banyak menanam pohon langsung di tanah agar hasilnya bisa optimal, bukan hanya sekedar penghijauan tetapi juga sebagai resapan air... sehingga binatang-binatang indah yang  bisa menjadi penyejuk mata tetap hadir di sekeliling kita.  

Saya juga teringat waktu saya kecil jika malam tiba... senang sekali melihat kunang-kunang beterbangan dengan bebasnya di sekeliling rumah kita  karena masih banyaknya tanaman... tetapi sekarang... menemukan satu saja kunang-kunang  sudah sulit ... saya hanya bisa bercerita tentang indahnya kunang-kunang pada malam hari kepada anak saya... jika anak saya bertanya 'kenapa sekarang tidak ada?', saya hanya menjawab 'karena pohon tempat tinggal kunang-kunang sudah hilang', kemudian anak saya bertanya lagi, 'kenapa bisa hilang?', saya hanya menjawab 'karena manusia menebang sebagian besar pohon untuk dijadikan bangunan dan lupa menanam kembali'.  Untung saja anak saya tidak melanjutkan dengan pertanyaan 'kenapa lupa', karena sulit bagi saya untuk menjawab 'bahwa manusia itu serakah sehingga seringkali lupa membalas budi pada alam yang telah memberinya tempat tinggal'. 

Nah, tentunya Anda ingin anak-anak Anda dan cucu-cucu Anda kelak juga bisa tetap menikmati keindahan alam ini seperti Anda menikmati keindahan alam pada waktu Anda kecil dulu.  Jadi, JANGAN RUSAK ALAM INI.



Suka dengan artikel ini...?  Boleh vote dengan mengklik icon berikut...


.

Artikel Terkait

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Sponsors

New Installed

free counters